Obrolan malam hari bersama Ibu, di ranjang.
"Kakakmu itu sayang banget dengan kamu nok. Kalau ibu tinggal kamu di ranjang saat kau tertidur pulas dia mau jaga di tepi ranjang tanpa ibu perintah." kata Ibu
Terima kasih ya Allah, Engkau telah ciptakanku dari rahim seorang Ibu yang hebat, lahir setelah Kakak yang amat menyayangiku, dan atas ijin-Mu aku lahir atas kerja keras Ayah.
Ibu, Ayah, Kakak, Aku....
Welcome to My Kingdom
....segalanya ada di Blog ini...
Friday, 19 April 2013
my short story
SI BERUANG
Tahu nggak rasanya sekujur tubuh
diselimuti aura negatif dan aura itu nggak bisa menemukan pintu bertuliskan
“Exit”, rasanya itu kayak dasar laut ada lubang yang detik demi detik semakin
melebar dan menguras air laut, sehingga laut kering keronta.
Perasaan
gundah gulanaku muncul bermula dari pertemuan kita. Aku, Dion, dan Naya.
“Dion,
kamu masih ingat dengan Naya nggak?” tanyaku pada Kekasihku setelah pesan
singkat ku baca dari Naya.
“Naya?
Dia itu temanmu sewaktu SMP kan? Kalau Naya yang aku fikirkan sama dengan yang
kamu maksud aku ingat Beb.” Jawabnya. “Emang kenapa sih?” sambung Dion.
“Dia
ngajak aku ketemuan malam ini.” Jelasku. “kamu mau nggk nemenin aku ketemuan
dengan dia, katanya sih mau reunian setelah tiga tahun nggak ketemu.” Pintaku
dengan muka memohon.
Tepat
pukul dua siang kami ketemuan di Metro
Plaza. Dari pintu masuk harum khas Naya udah kecium. Dia bersama dua temannya
menghampiri aku dan Dion di Coffee Shop.
“Hai
Bebby, aku kangen banget sama kamu.” Dengan suara lantang dia memanggil namaku
dan memelukku. “Apa kabar kamu? Oh iya, kamu Dion ya? Awet banget ya kamu
dengan Bebby.” Naya merespon keberadaan Dion di sampingku.
“Iya
Nay, aku Dion masa pangling sih dengan aku.” Dion merespon balik tegur Naya.
“Nay, kamu beda banget sekarang, dulu
kan kamu....” Mata Dion menatap Naya dengan
senyum sembari melebarkan tangannya.
“Kamu
mau bilang kalau aku dulu kayak beruang sekarang kaya barbie, gitu? Jahat
banget sih kamu. Satu tahun aku diet ketat,
mencengangkan kan hasilnya?” Naya berputar-putar memamerkan tubuh gitar
Spanyolnya.
Lima
menit berlalu, mereka menyadari aku berada di samping Dion dengan muka sedikit
mendung. Suasana kafe saat itu seperti neraka bagiku. Melihat tingkahnya yang
seperti “artis kemarin sore”. Ku pastikan pertemuan itu bukan hal yang
menyenangkan.
“Nay,
aku pamit pulang dulu ya. Jam tiga sore ini aku ada pemotretan di studio.
Makasih ya, kamu udah mau aku ajak ketemuan.” Naya pamit setelah cipika-cipiki
dia menghilang.
Pertemuan
lima belas menit itu hambar. Dia bukan Naya (si beruang unyu) yang suka aku
cubitin. Kini dia malaikat bersayap hitam.
“Naya
kenapa bisa berubah drastis gitu ya Beb?” tanya Dion. “Tahu ah, kenapa suka
sama Naya yang sekarang? Cantik, sexy, langsing, model pula. Sedangkan aku, aku
masih “si beruang”.” Jawabku ketus.
Dion
menepikan mobil ke pinggir jalan, dia meraih tanganku dan langsung memelukku.
“sayang, kamu “si beruang manis” yang membuat cinta dan kasih sayangku menjadi
nyata. Yang jelas kamu bukan khayalanku selama lima tahun ini.” Lalu Dion
mencium keningku.
Dion
meyakinkanku kalau “si beruang manis” ini cinta dan kasih sayangnya yang nyata
dengan memintaku kepada kedua orang tuaku untuk menjadi kekasih seumur
hidupnya.
by: E.L.W
Thursday, 11 April 2013
Saturday, 6 April 2013
it's my new blog
Ok, ini saatnya aku berselancar ke dunia maya yang ada di sisi lain..
Berbagi dengan dunia luar..
Enjoy...
:)
Berbagi dengan dunia luar..
Enjoy...
:)
Subscribe to:
Posts (Atom)



